Minggu, 23 Maret 2014

Ini Alasan Kenapa Saya Tetap Menerapkan GMT+8



Pemberitahuan lewat facebook ketika saya kembali ke zona GMT+8

Sebelumnya saya minta maaf kepada teman atau keluarga yang pernah berkunjung dan tiba- tiba bingung disertai terkejut pas ngeliat jam dinding di kosan sedikit aneh pergerakannya. Apalagi kalo menyangkut masalah sholat. Misalnya udah siap sholat magrib, tapi tiba- tiba udah jam 19:15 aja atau udah yakin banget kalo adzan Ashar masih satu jam lagi, tapi kok ini udah jam 15:00 ?! haha. Tenang…. karena jam itu gak rusak/ baterai nya habis. Tapi emang saya atur lebih cepat satu jam dari WIB. Bukan karena sering telat lho, terus dicepetin satu jam -__- Justru ini udah keputusan saya dari 2 tahun yang lalu, tepatnya pada Mei 2012.

Kalian pernah denger rencana pemerintah RI yang mau menyatukan zona waktu pada 28 Oktober 2012?. Indonesia sekarang ini punya tiga zona waktu, yaitu WIB (Waktu Indonesia Barat), WITA (Waktu Indonesia Tengah), dan WIT (Waktu Indonesia Timur). Nah rencananya pada saat itu mau disatukan jadi satu zona waktu aja, yaitu WKI (Waktu Kesatuan Indonesia) yang memakai GMT+8 atau setara dengan WITA. Jadi yang tinggal di daerah Sumatra, Jawa, Kalbar & Kalteng mengubah waktunya satu jam lebih cepat dari biasanya. Sebaliknya yang di daerah Papua dan Maluku memperlambat waktunya satu jam. Sementara yang di Sulawesi, Bali, Nusa tenggara nggak ada perubahan. Sebenarnya jika melihat kebelakang, Indonesia sudah 9 kali mengubah zona waktu.


Nah isu tersebutlah yang membuat saya awalnya mengatur jam dinding di kamar saya satu jam lebih cepat jadi keterusan hingga sekarang. Bahkan sampai rencana tersebut ditunda, saya masih memakai GMT+8. Disini saya sangat mendukung rencana pemerintah. Karena begitu harmonisnya ketika membayangkan kalau dari Sabang hingga Merauke punya waktu yang sama.

Sebenarnya apa alasan pemerintah menerapkan ini? Mengingat waktu yang berlaku saat ini udah cocok sama pergerakan matahari. Sepeti kita ketahui, Indonesia merupakan negara yang terletak di garis khatulistiwa. Artinya porsi siang dan malam seimbang. kalo matahari terbit jam 06:00, nanti tenggelam jam 18:00, 12 jam terang – 12 jam gelap.

Sebenarnya meski zona waktu udah disatukan, porsi siang dan malam tetap begitu saja. Tapi kebiasaan masyarakat yang menilai kalo pagi (ketika matahari baru muncul) itu sekitar pukul 06:00 dan senja itu ya sekitar pukul 18:00, sehingga pemahaman tersebut sulit diubah. Tapi pemerintah beralasan kalau zona waktu disatukan akan meningkatkan produktivitas.

Maksud produktivitas disini adalah kegiatan ekonomi. Harapannya perekonomian Indonesia akan lebih baik kalau daerah timur sampai barat memiliki kesamaan waktu, kemudian negara- negara yang menjalin kerja sama intens di bidang ekonomi dengan Indonesia mayoritas berzona waktu GMT+8. seperti Tiongkok (dulu biasa kita sebut Cina), Malaysia, Singapura dan Filipina.

Contohnya ketika bursa efek di Singapura dan Tiongkok sudah buka, Indonesia yang kantor bursa efek nya di Jakarta masih harus menunggu satu jam lagi. Kemudian ketika masyarakat Singapura dan Malaysia sudah masuk kerja dan beraktivitas, masyarakat Indonesia terutama di wilayah barat baru bangun tidur.

Padahal dilihat dari letak geografis, Singapura dan Malaysia barat berada dekat dengan Riau dan Sumatra Utara, tapi mereka memakai zona waktu GMT+8 yang setara dengan Bali. Artinya masyarakat Singapura dan Kuala Lumpur memulai aktivitas lebih pagi dari masyarakat Jakarta. Di Singapura jam masuk kantor adalah pukul 07:00, padahal di pulau seberangnya yaitu Batam masih jam 06:00. Bahkan di Kuala Lumpur jam masuk kantor juga jam 07:00 - 08:00. Masih terlalu pagi bagi kita di Jakarta.

Kesenjangan tidak hanya terjadi antar negara saja, tapi juga di Indonesia. Hal ini meliputi komunikasi, penerbangan, transaksi, sampai jam tayang TV nasional. Sebagaimana kita ketahui, pusat RI berada di zona WIB. Contohnya ketika bank di wilayah Papua sudah tutup jam 15:00, bank di Jawa yang masih jam 13:00 justru sedang giat- giatnya bertransaksi. Akibat perbedaan waktu, proses transaksi dan komunikasi antara Jawa dan Papua terbatas.

Kemudian siaran TV nasional yang lebih memperhatikan wilayah barat Indonesia, Semua mengacu pada WIB, sehingga masyarakat di Timur dan Tengah harus menyesuaikan jika ingin menonton TV. Belum lagi ketika kita melakukan penerbangan ke daerah lain di Indonesia, kita harus mengatur ulang jam tangan atau di handphone. Padahal ini masih di Indonesia. Maka tidak heran mengapa daerah timur Indonesia selalu tertinggal. Karena semuanya berpusat di Jakarta.

Jika rencana penyatuan zona waktu dilaksanakan, maka masyarakat Jakarta harus siap bangun lebih pagi lagi!. Karena jam masuk kerja akan disetarakan yaitu pukul 07:00!!. Hal ini mengakibatkan rencana tersebut menuai kontroversi, banyak yang tidak setuju. Karena ini akan memicu kecemburuan masyarakat Indonesia di wilayah barat kepada yang timur.

Bagaimana tidak, pukul 07:00 di wilayah Indonesia paling barat terutama Aceh dan Medan masih gelap dan di Jakarta matahari masih malu–malu untuk muncul. Sementara di papua matahari sudah terik. Umpamanya “situasi di wilayah barat terburu- buru sementara di wilayah timur sangat santai”. Nah jika seperti ini, kondisi berbalik. Biasanya Indonesia timur yang iri kepada daerah barat, kini yang di wilayah barat iri kepada yang tinggal di timur.

Tapi bagaimana pun Indonesia harus bersatu, kini sudah saatnya yang di Jakarta menyesuaikan. Mungkin butuh adaptasi beberapa minggu untuk merubahnya, lama- lama juga akan terbiasa. Jika yang di Singapura dan Kuala Lumpur bisa, kenapa kita yang di Jakarta tidak bisa?. Bahkan banyak negara yang seluas Indonesia hanya memiliki satu zona waktu, yaitu Republik Rakyat Tiongkok, India, dan Brazil. Sehingga slogan “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa” akan diperpanjang menjadi “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Satu Zona Waktu”.

Namun hingga tulisan ini dimuat, perubahan zona waktu belum dilaksanakan. Karena pemerintah menilai masih banyak yang penting daripada menyatukan zona waktu. Mungkin karena dipengaruhi oleh mereka yang tidak setuju. Sebab mereka menilai kalau pemerintah hanya memikirkan aspek ekonomi. Padahal menurut saya ini merupakan salah satu upaya agar persatuan Indonesia lebih efektif.

Dibawah ini saya akan membuat jam masuk kerja/ sekolah jika Indonesia memiliki satu zona waktu.

Jam kerja yang berlaku sekarang:

Kegiatan
WIB (GMT+7)
WITA (GMT+8)
WIT (GMT+9)
Masuk Kantor/ Sekolah
07.00/ 08.00
07.00
07.00
Makan Siang + Sholat
12.00 – 13.00
12.00- 13.00
12.00- 13.00
Pulang
15.00 / 16.00
15.00
15.00
Keterangan
Di wilayah ini, jika ingin menghubungi atau bertransaksi dengan wilayah WITA /WIT pada jam 10.00 WIB/11.00 WIB. harus menunggu, karena mereka sedang istirahat.
Ketika wilayah ini selesai istirahat pada pukul 13.00 WITA, di wilayah WIB baru jam 12.00, mau istirahat.
Di wilayah ini aktivitas sudah usai. Tapi di WIB jam 13.00 baru selesai istirahat.

Jam kerja Nasional:

Kegiatan
WKI (GMT+8)
Masuk Kantor/ Sekolah
07.00, 07.30, 08.00
(Karyawan diberi pilihan asal lama jam kerja tetap)
Makan Siang + Sholat
11.30 – 12.30 atau 12.30 - 13.30
(satu tempat kerja memberi karyawan 2 pilihan waktu istirahat, tentunya menyesuaikan waktu sholat setempat)
Pulang
15.00, 15.30, 16.00
(Pulang sesuai pilihan masuk kerja)
Keterangan
Perhitungan jika 8 jam kerja

Inti masalahnya apakah semuanya siap berubah? Kalau saya pribadi sudah siap. Karena begitu rencana penyatuan zona waktu muncul, saya mencoba menyesuaikan. Mulai dari ruang lingkup yang kecil dulu, seperti kamar. sehingga kini saya sudah terbiasa satu jam lebih cepat dengan orang- orang disekitar. Pun kalau berada di Papua/ Maluku saya akan mencoba memperlambat satu jam. Karena saya masih berharap kalau penyatuan zona waktu benar- benar terjadi.


Sabtu, 08 Maret 2014

Menelusuri Jejak Film di Indonesia



Berbicara tentang asal usul perfilman di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh bangsa lain. Sejarah mencatat bahwa daya hidup film tidak pernah bisa berdiri karena senantiasa terkait dengan konteks politik, ekonomi dan daya hidup budaya populer. Munculnya film di Indonesia diawali dari seni pertunjukan rakyat bernama Wayang Wong (wayang orang), Komedi Stambul, ketoprak, ludruk, Sandiwara, hingga modernisasi atas penerapan politik etis di wilayah kolonial Belanda.

Wayang Wong pada awalnya adalah pertunjukan yang hanya di gelar di dalam kompleks kerajaan Mataram Kuno sebagai bentuk ritual yang akhirnya terpecah dan terus dilestarikan oleh Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Kemudian berkembang menjadi hiburan para tamu keraton. Pementasan Wayang ini sangatlah mewah yang membutuhkan banyak uang dan tenaga. Hingga pada masa pemerintahan Sultan HB III, pementasan ini jarang ditampilkan karena keraton mengalami kesulitan finansial.

Disaat keadaan seperti itu, seorang Tionghoa bernama Gan Kam mencari peluang bisnis dengan menjadikan kesenian Wayang Wong sebagai komoditas, ia membujuk raja Solo saat itu untuk mengijinkan pertunjukkan Wayang Wong di luar Keraton. Berkat jasanyalah kesenian tersebut dapat ditonton oleh seluruh elemen masyarakat di kota itu. Berbeda dengan di Yogyakarta, kesenian tersebut dapat dinikmati oleh rakyat atas pengaruh kalangan elit keraton yang mendemokrasikan atau memasyarakatkannya dengan memberi kesempatan untuk mempelajari kesenian itu di sekolah- sekolah.

Pertemuan wayang dengan komedi stambul semakin memeriahkan dunia pertunjukan Hindia Belanda (Indonesia) saat itu. Bedanya, komedi stambul dipentaskan secara berkeliling, dengan durasi yang lebih singkat dan hadir pada waktu senggang masyarakat industri. Komedi stambul berasal dari Surabaya yang dulu dikenal sebagai kota dagang. Digagas oleh seorang peranakan eropa dan biayai oleh seorang Tionghoa yang melibatkan beragam kebudayaan dan ditonton oleh berbagai ras dengan bahasa pengantar adalah Bahasa Melayu.

Pertunjukan seni di Hindia Belanda terus berkembang seiring tuntutan industrialisasi dan dipengaruhi oleh berbagai kebudayaan, dari kesenian tradisional maupun mancanegara. Industrialisasi melahirkan jalur kereta yang membuat kesenian komedi stambul menyebar hingga kota- kota besar Jawa. Hingga datanglah suatu seni pertunjukan ketoprak yang berasal dari Jawa Tengah, Ludruk dari Jawa Timur dan Sandiwara dari Jawa Barat. Ketiga bentuk pertunjukan itu sangat mempengaruhi masa awal produksi film di Hindia Belanda.

pada akhir tahun 1900, masyarakat Hindia Belanda dikejutkan oleh penayangan “Gambar Hidup” yang kini biasa disebut Film. Ditayangkan di bioskop hingga lapangan di kota- kota besar agar dapat mencakup semua elemen masyarakat. Hal ini salah satu bentuk kolonialisasi Belanda yang mengenalkan negaranya melalui film dokumenter. Kemudian diimporlah film- film dari Amerika yang alur ceritanya dinilai lebih menarik dan menantang.

Namun pemerintah Kolonial sempat khawatir atas film Amerika yang justru mampu mengubah pikiran pribumi terhadap orang Eropa saat itu. Terutama terhadap Belanda yang berkuasa. Karena di film Amerika orang Eropa di presentasikan buruk, seperti mafia. Akhirnya dibuatlah film buatan Hindia Belanda yang ceritanya diadopsi oleh film- film Amerika. Pembuatan film tersebut dibiayai oleh pemerintah Belanda. Selain itu menerapkan sensor di semua film impor.
Ancaman mati nya seni tradisional juga sempat mengkhawatirkan, karena beredarnya film- film luar negeri di Hindia Belanda. Pada 1926, lahirlah film loetoeng kasaroeng yang memadukan wayang, sandiwara dan film yang dikemas sedemikian menarik. Film ini berlatar legenda sunda yang sudah terkenal. Hal ini agar masyarakat tidak lupa seni daerahnya.

Kota- kota besar di Hindia Belanda semakin tumbuh menjadi kawasan kosmopolitan. Hal ini terkait atas penerapan hukum agrarian, peningkatan liberalisasi politik dan politik etis yang diterapkan pemerintahan Belanda. Sehingga memacu percepatan pembangunan, termasuk pembangunan fasilitas gedung publik yang mendukung dunia pertunjukan.


Kawasan kompolitan merupakan wadah bagi munculnya imajinasi dalam berkreasi. Seni pertunjukan dan film seringkali dijadikan sebagai jembatan agar kota memiliki cerita yang mampu merangkul aspirasi Hindia Belanda dan mampu menjangkau banyak penonton. Selain itu keutungungan yang diperoleh dari Belanda adalah, melalui seni pertunjukan mereka mampu mengancam orang pribumi agar tidak berani memberontak kepada pemerintah. 

Rabu, 04 Desember 2013

Berkelompok Itu Justru Lebih Melelahkan

              
         
          Ini kehidupan sebagai mahasiswa komunikasi. Namanya aja komunikasi, pasti harus jago berargumen dan tampil confidence di depan banyak orang. Oke, itu tuntutan. Padahal gue gak suka. Tapi karena gua udah mengambil tantangan ini, gua akan belajar mencoba mencintai jurusan ini. Meskipun masih sedikit terluka dengan apa yang gua usahakan dulu demi sesuatu yang akhirnya nihil. Oke itu postingan gua yang lalu. Sekarang gua akan mengobatinya.

        Mungkin saat ini saya lelah. Jurusan ini sering banget tugasnya berkelompok. Sesuatu yang “damn” banget buat gue. Mungkin karena latar belakang gue kurang bersosialisasi atau karena belum siap. Jadi menemukan ketenangan adalah dengan sendiri, bukan bersama- sama.

          Nyatanya menjalin hubungan antar manusia emang bikin repot. Itulah sebabnya gua gak suka tugas kelompok. Entah kenapa kalo tugas individu lebih cepat terselesaikan dibanding dengan tugas kelompok. Banyak orang, secara teori memang membuat suatu pekerjaan lebih mudah dan cepat. Tapi secara praktik nggak semudah itu. Banyak kasus yang bikin gua sadar kalau berkelompok itu memuakkan. Beberapa yang repot sendiri, sedangkan yang lain tinggal terdiam manis. Mungkin gua akan semangat jika semuanya berpartisipasi, tapi gua jarang mengalaminya.

           Semua orang memiliki kemampuan yang berbeda- beda. Kalo mau hasil kelompoknya bagus, semua anggota harus saling memahami. Namun yang sering terjadi adalah menyerahkan pekerjaan kepada satu orang doang. Jadi nasib kelompok hanya bergantung pada orang itu. Kalo ada yang gak beres, dia yang disalahin. Padahal dia udah usaha sebaik mungkin. Sempat gua alamin yang pinter tapi gak kerja, itu ada. Yang cuma setor muka sekali, terus pertemuan- pertemuan selanjutnya gak pernah hadir sampe tugas selesai, itu juga ada. Pokoknya suka sebel sendiri deh!

               Pengen deh sekali- kali jadi anggota yang cuma diem. Ah! Tapi gak bisa!.. mungkin gua bisa gak peduli sama orang- orang yang ada dikelompok. Tapi gua peduli sama nilai- nilai yang akan gua dapet. Ini pertanggungjawaban terhadap orang tua yang sudah berusaha. Masa gue udah dikuliahin, terus kuliahnya gak bener?! Itu amanah.

            Menurut gue tugas- tugas di jurusan komunikasi tuh gak ada yang susah. Laboratorium sehari- hari jurusan ini adalah televisi, Koran, dan radio. Kita bisa berdialog mengenai kasus- kasus terupdate selama perkuliahan berlangsung. Teori- teorinya pun bisa cepat kita pahami karena menyangkut aktivitas sehari- hari.

           Mudah- mudahan semester selanjutnya kuliah di jurusan ini menyenangkan deh. jadi gua nggak nyesel ambil tantangan ini. Pun kalo berkelompok, gua bisa berada disekitar orang- orang yang semangat kerjanya tinggi.

          ngomel lagi kan gue, yah.. gakpp deh. daripada dipendam. Sesuatu yang dipendam akhirnya justru buruk loh. Kayak orang yang memendam cintanya, akhirnya malah disalip sama orang lain.

lah, ngaco gini yah? Mungkin kelelahan gue sudah semakin pecah saat ini?

Senin, 11 November 2013

Celoteh sang pengkotbah







Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada. Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali.

Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu.


Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar. Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.

Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.

 Dan aku melihat bahwa hikmat melebihi kebodohan, seperti terang melebihi kegelapan. Mata orang berhikmat ada di kepalanya, sedangkan orang yang bodoh berjalan dalam kegelapan, tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua.

Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan.

Lagi aku melihat segala penindasan yang terjadi di bawah matahari, dan lihatlah, air mata orang-orang yang ditindas dan tak ada yang menghibur mereka, karena di fihak orang-orang yang menindas ada kekuasaan. Oleh sebab itu aku menganggap orang-orang mati, yang sudah lama meninggal, lebih bahagia dari pada orang-orang hidup, yang sekarang masih hidup.


Rabu, 30 Oktober 2013

Saya Mulai Lelah



Karena gak tau mau cerita ke siapa, jadi gua luapkan di blog ini.

Tiba- tiba teringat pada masa akhir SMP. Waktu itu keinginan agar bisa masuk SMA jurusan IPA begitu kuat. Alasannya adalah karena gua punya ambisi menjadi seorang arsitek. Arsitek yang fokus pada pembangunan dan perancangan kota.

Melihat kota- kota di Eropa bikin iri, bangunannya tertata rapih, transportasinya lengkap, suasananya nyaman dan humanis. Kontras dengan keadaan kota- kota di negara ini. Itulah kenapa gambar- gambar yang gua buat dominan dengan tema perkotaan. Dengan tekad itu gua berlatih keras. Berusaha mengasah kemampuan berhitung di IPA, mempelajari rumitnya rumus- rumus fisika dan matematika. Karena jurusan arsitektur tidak terlepas dari masalah hitung- hitungan.

Tapi sekarang kenapa gua kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi?.  Dan saat ini gua berada pada titik jenuh. gua masuk jurusan ini atas dasar kepo pada pekerjaan broadcaster dan jurnalis. Nggak nyangka kalo ternyata mata kuliah yang harus diemban, tidak seperti apa yang gua bayangkan.

Sebenernya asik sih, tapi setiap jadi bagian dari civitas ilmu komunikasi gua ngerasa “ini bukan diri gue yang asli”. Taulah di ilmu komunikasi mahasiswanya harus kayak apa. Sementara gua cenderung introvert dan lebih suka dengan  sesuatu yang terencana, detail dan terukur.  Jadi lama- lama gua berasa dipaksa untuk melepas karakter asli diri gua yang ini udah nyaman banget.

Disaat teman- teman gua udah punya target mau kerja dimana, jabatannya apa. Ada yang kepengen banget kerja di Trans TV jadi tim kreatif, reporter atau apalah yang berhubungan dengan TV. Ada yang mau jadi Public Relations. Sementara gua masih bingung mau kerja di kantor apa dan jabatannya apa.  karena cita - cita gua bukan di Ilmu Komunikasi. Peminatan gua di Broadcasting, tapi target gua mau jadi apa belum kebayang. karena gua cuma suka liat orang- orang yang kerja di stasiun TV.

Beda dengan orang yang masuk jurusan karena bingung dia mau pilih apa. Jadi mereka enjoy- enjoy aja, yang penting kuliah. Tapi gua udah punya cita- cita, dan keputusan untuk meraih itu semua adalah wewenang gua. Tapi kenapa dulu gua nggak pilih apa yang gua cita- citakan?, kenapa yang gua ambil malah tantangan?.

Kenapa gua dari dulu gak hidup dengan tanpa cita- cita aja? Hidup dengan cita- cita dan ambisi itu begitu menyesakkan. Sesak kalo kita nggak dapetin apa yang udah kita usahakan.

Kalo tau seperti ini jalannya, kenapa gua dulu maksain masuk ke SMA yang mahal?. Hanya karena SMA itu cuma buka program IPA, tapi sekarang gua kuliah di ilmu sosial. Sia- sia? IYA!! .. belasan juta dikeluarin waktu sekolah, dan sekarang ilmunya gak digunain waktu kuliah.

Gua merasa bersalah jadi anak. Tapi di satu sisi, ketika gua berusaha memantapkan untuk mengambil jurusan yang gua cita- citakan di Univ. swasta (setelah ditolak PTN),  malah gak ada support dari orang- orang terdekat gua.

Jadi akhirnya seperti ini. Hampa, gak ada tujuan, pandangan dan harapan ke kedepan udah gak ada. Mengalir begitu saja.

Kini hanya tersenyum, senang rasanya melihat orang- orang yang bersemangat untuk mewujudkan cita- citanya. Setidaknya harapan dan usaha mereka berada pada jalan yang sama.

Berada disekitar mereka yang sedang bersemangat. berjalan bersama teman- teman Ilmu Komunikasi. Namun harapan gua justru berada pada jalan yang berbeda.



Ah.. andai saja seperti mereka. Rasanya pengen pergi yang jauh, jauh, dan jauh…. 

Selasa, 13 Agustus 2013

Keep calm and proud of it (Kiri dari Lahir)



13 Agustus. Tanggal ini bukan hari ulang tahun saya. Tapi tanggal itu yang selalu saya tunggu setiap tahun. Bukan karena ada orang lain yang spesial, tapi entah mengapa saya lebih senang dan bangga menyambutnya.

tidak ada hal meriah di tanggal tersebut. Karena tidak banyak orang yang tahu. Namun pengharapan dan kekuatan adalah sangat berarti. Berharap agar terciptanya keadilan, meskipun ini mustahil. Kuat untuk selalu menerima kenyataan, walaupun ini pahit. 

Saya sebenarnya tidak ingin sendirian dalam menyambut moment ini. Hanya saja saya tidak bisa merayakan dengan kumpul bersama, karena sulit mencari yang senasib dengan saya, sebab kami memang sedikit. 

Tapi kami mempunyai pengharapan yang sama dalam hidup. Yaitu yang tertindas secara batin, ditolak oleh norma, dan dijajah dengan kenyataan. Ya, itu semua terjadi karena kami minoritas. Kami hanya 10% dari total populasi dunia. Yang membuat kami harus menjalankan kehidupan lebih sulit dibanding kebanyakan orang. mengikuti apa yang mereka lakukan dan inginkan. Walaupun sebenarnya ingin sekali melakukan kebebasan seperti orang- orang yang sudah tercipta menjadi golongan mayoritas. 

Tapi saya harus sadar bahwa ini adalah takdir, mau tidak mau kenyataan memang tetap seperti itu. Yaitu kenyataan yang harus saya terima bahwa kemampuan tangan kanan saya lebih lemah dibanding kemampuan tangan kiri. 

Saya kiri dari lahir, singkat saja kidal. dan tanggal 13 agustus ini adalah hari kidal internasional (International left handers day). Hari itu dibuat bukan untuk mengajak orang melakukan aktivitas dengan tangan kiri, tapi agar orang kidal dihargai dan mendapatkan hak yang sama seperti orang “normal” . Bukan perlakuan diskriminasi seperti yang selama ini terjadi.

Selamat Hari Kidal Sedunia


Oke, mungkin saja kalian menganggapnya hal ini berlebihan. Tapi tahukah kalian sebenarnya seperti apa terlahir sebagai kidal?. 

Biarkan saya menjelaskan dengan singkat…

Jujur saya bangga terlahir sebagai kidal, bukan berarti karena mendengar pujian dari orang- orang yang bilang kalau “orang kidal itu pintar dan hebat loh!”, bagi saya itu cuma basa basi. Tapi saya bangga dapat bertahan untuk tetap menjadi orang kidal walaupun keadaan memaksa saya untuk merubahnya dan sering kali mengalami tekanan, terlebih saat saya masuk dalam dunia pendidikan (sekolah). Sindiran bahkan ancaman pernah saya alami di sekolah. 

Di umur 5 tahun saya masuk TK, saya dilarang memakai tangan kiri untuk menulis, dipaksa untuk menulis dengan tangan kanan. Padahal orang tua membebaskan saya untuk menulis dengan tangan apa saja, mereka sama sekali tidak keberatan kalau anaknya terlahir sebagai kidal. Karena itu bawaan dari keturunan. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa- apa ketika guru menyuruh saya untuk terus menggunakan tangan kanan hanya karena kesopanan itu terletak di tangan kanan.

Masa TK saya lalui dengan tekanan. Setiap hari saya menulis dengan tangan kanan yang membuat saya selalu terlambat mengumpulkan tugas. Disaat teman- teman diperbolehkan untuk pulang, saya belum boleh pulang karena saya belum selesai menulis. Alhasil keluar paling akhir di waktu pulang, bahkan sampai keadaan disekitar sepi.

Saya juga pernah merasakan cubitan di waktu SD dari seorang guru yang baru sadar melihat saya menulis dengan tangan kiri. Bahkan saya diancam dihadapan teman sekelas saya kalau besok menulis dengan tangan kiri lagi akan dihukum. 

“kok kamu nulis pake tangan kiri? Hey! *sambil dicubit*. Jangan pake tangan kotor! Nggak sopan. kalo besok ibu lihat kamu nulis pake tangan kiri lagi di jam pelajaran, ibu hukum! Jangan masuk kelas kalo nggak bisa nulis pake tangan kanan”. Itulah yang dia katakan saat itu, sampe sekarang saya masih ingat betapa malu nya saya dicap sebagai murid yang tidak sopan dihadapan teman- teman. 

Di rumah saya terus berlatih memakai tangan kanan, Tapi hasil tulisan saya selalu jelek, tidak sebagus tulisan tangan kiri. Nggak pernah memuaskan. Tangan kanan saya terasa kaku dan usaha itu tidak pernah berhasil hingga sekarang. 

Jadi dulu, agar saya tidak tertinggal dengan teman- teman, saya berpura- pura menulis dengan tangan kanan jika dilihat oleh guru saja. Dan kembali lancar menulis dengan tangan kiri. Memakai strategi tertentu agar tidak ketahuan. Tapi ini tidak berlaku jika kebagian bangku dipaling depan. 

Memang doktrin yang buruk tentang tangan kiri sangat kuat di kalangan masyarakat, Terlebih masyarakat timur. Sehingga sisi kiri selalu dicap buruk, kotor dan menjijikan, bahkan tangan setan. Maka tidak heran perilaku diskriminasi terhadap orang kidal seperti saya tidak dilarang, karena didukung oleh norma dan agama. 

Agama selalu memerintahkan bahwa sesuatu yang baik harus dikerjakan dengan tangan kanan, seperti makan, bersalaman, memberi. Sehingga posisi kanan adalah kebaikan. Begitu sebaliknya, tangan kiri itu buruk dan menjijikan. 

Saya selalu mendapatkan sindiran bahwa menulis dengan tangan kiri itu tidak boleh. Bahkan itu diucapkan oleh guru agama sewaktu saya sekolah. Padahal jika saya bisa, saya pasti nulis pakai tangan kanan pak!, tapi tangan ini selalu kaku untuk menulis. Memang agama tidak memperkenankan mengerjakan sesuatu dengan tangan kiri, tapi dengan kondisi seperti apa dulu. Dalam hal yang menyangkut ibadah jelas tidak diperbolehkan. 

Apakah ini adil? Saya tidak pernah meminta kepada Tuhan terlahir sebagai kidal, tapi Tuhan yang memberikan. 

Saya sempat iri melihat orang- orang yang leluasa menggunakan tangan kanannya dalam menulis dan beraktivitas. Saya ingin sama seperti mereka, sehingga tidak dibilang aneh, tidak sopan dan tidak tahu aturan disaat mata tertuju kepada saya. Tapi saya yakin pasti ada hikmah mengapa saya kiri dari lahir. 

Namun asal kalian tahu, tidak semua orang kidal itu menulis dengan tangan kiri. Bisa jadi mereka bisa menulis dengan tangan kanan, namun melakukan aktivitas lain dominan dengan tangan kirinya. Bisa jadi ada faktor lain yang menyebabkan ia menulis dengan tangan kanan. Salah jika mengira bahwa orang tersebut kidal dilihat hanya dari cara menulis, karena kidal itu berarti menggunakan tangan kiri sebagai sumber kekuatan dalam beraktivitas, dan menulis hanya satu dari banyak jenis aktivitas. 

Ada suatu hal yang biasa terjadi ketika orang lain melihat saya menulis dengan tangan kiri. Perkataan mereka pasti tidak jauh dari seperti ini:

“kamu kok kidal?”

“terus makan pake tangan apa?”

“kok bisa sih nulisnya pake tangan kiri?”

“nulis tuh di tangan baik, jangan di kiri. Nggak bagus!”

Hingga sekarang hal itu masih akan terjadi, sampe- sampe saya bosan menanggapinya.
Oke, saya bisa makan pake tangan kanan dengan sendok. Kecuali pake sumpit, kalau pake tangan kanan kagok dan bisa menyebalkan kalo makanannya nggak bisa keambil. 

Jadi orang kidal itu sulit, karena dunia dominan dengan orang Right handed. Semua yang tercipta dirancang untuk memudahkan tangan kanan. Seperti gitar, gunting, pisau, alat elektronik, posisi mouse, penomeran di penggaris, sampai bangku kuliah. 

Jadi jika menggunakan sesuatu, saya merasa tidak mahir dan sulit melakukannya. Padahal barang dan alat- alat pekerjaan dicipta untuk memberikan kemudahan bagi pemakainya, tapi tidak bagi saya. 

Saat menulis di bangku kuliah tangan saya harus menggantung, tidak heran kalau sampai terjatuh. Itu karena tumpuan hanya berada di sebelah kanan. Apalagi jika yang saya tulis itu banyak. Terasa pegal dan cepat lelah karena tidak ada tumpuan di sebelah kiri. 

Saya sempat membayangkan, bagaimana kalau kasus – kasus tersebut dibalik? Dan menimpa orang yang bertangan kanan? Atau bisakah kalian sabar merasakannya?

Saya tidak bisa berbuat apa- apa dengan perlakuan seperti itu. Karena pasti tidak ada yang membela. Mau dispesialkan?, emang pantas orang kidal yang katanya tidak sopan dan aneh diberi perlakuan khusus? Lagi pula rugi juga kalau membuatnya, karena jumlahnya sedikit. 

Sesuatu dibuat untuk memudahkan kepentingan mayoritas kan? Jadi kaum minoritas mau tidak mau harus mengikutinya. Jadi mendingan nggak usah ada perhatian kan?! . Mau mencari teman yang sesama kidal pun sulit, jadi saya memilih bungkam. 

Apakah selamanya harus berlangsung seperti ini? Walaupun tidak ada pilihan, tapi jangan khawatir, keadaan seperti ini membuat orang kidal selalu beradaptasi. Menemukan solusi, meniru seperti apa yang dilakukan orang “normal” sehingga tangan kanan terasah agar bisa berfungsi dengan baik. Keadaan ini memaksa orang kidal untuk menjadi Ambidexter, yaitu sebutan untuk orang yang bisa menggunakan tangan kiri dan kanannya dengan baik. 

Seumur hidup saya berada disekeliling mayoritas, diantara puluhan orang tangan kanan dan mampu berbaur dengan mereka. Jadi nggak semestinya saya menuntut hak dan keadilan, karena saya bisa menanggulanginya. 

Kira- kira seperti itulah singkatnya menjadi orang kidal. Ada senang dan dukanya. Terkadang menjadi pusat perhatian karena pujian, terkadang juga karena dianggap berperilaku buruk. Melakukan sesuatu yang sebenarnya mudah, tapi ternyata sulit karena berbeda dari kebanyakan orang. 

Untuk penutup, Saya ingin menyampaikan untuk jangan memandang rendah tangan kiri kalian. Karena tangan kiri sama penting dengan peran tangan kanan. Gini aja, dapatkah kalian memindahkan tuas gigi dengan tangan kanan disaat menyetir mobil? Hal itu pasti sulit. 

Semua itu ada untuk keseimbangan. Begitu juga dengan terhadap orang kidal disekitar kalian, jangan lagi ada anggapan buruk yang memojokan nasibnya dalam kehidupan. Kidal itu pemberian Tuhan, jadi jangan salahkan kami kalau kita berbeda. 

Jangan paksa mereka untuk menjadi seperti yang kalian inginkan. Terutama bagi guru/orang tua kepada anaknya yang kidal. Jika kalian tetap memaksa, maka itu sama artinya kalian menghambat mereka untuk tumbuh menjadi kreatif dan membuatnya takut berekspresi. Bagaimana tidak? Setiap yang dilakukan pasti bayangi rasa takut. Padahal anak kecil butuh dukungan untuk mengembangkan bakatnya. Saya hanya tidak ingin kidal junior mengalami perlakuan yang sama seperti saya. 

Selamat hari kidal sedunia, semoga perlakuan mayoritas kepada yang terlahir sebagai left handed semakin baik dan positif. 

Terima kasih kalian mau menerima kami, mampu memberikan solusi dan dukungan kepada kami untuk bangga terlahir sebagai kidal. 

I may be Left handed, but I’m always right. 
 Keep calm, and proud being Left Handed :)








Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons