Sabtu, 08 Maret 2014

Menelusuri Jejak Film di Indonesia



Berbicara tentang asal usul perfilman di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh bangsa lain. Sejarah mencatat bahwa daya hidup film tidak pernah bisa berdiri karena senantiasa terkait dengan konteks politik, ekonomi dan daya hidup budaya populer. Munculnya film di Indonesia diawali dari seni pertunjukan rakyat bernama Wayang Wong (wayang orang), Komedi Stambul, ketoprak, ludruk, Sandiwara, hingga modernisasi atas penerapan politik etis di wilayah kolonial Belanda.

Wayang Wong pada awalnya adalah pertunjukan yang hanya di gelar di dalam kompleks kerajaan Mataram Kuno sebagai bentuk ritual yang akhirnya terpecah dan terus dilestarikan oleh Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Kemudian berkembang menjadi hiburan para tamu keraton. Pementasan Wayang ini sangatlah mewah yang membutuhkan banyak uang dan tenaga. Hingga pada masa pemerintahan Sultan HB III, pementasan ini jarang ditampilkan karena keraton mengalami kesulitan finansial.

Disaat keadaan seperti itu, seorang Tionghoa bernama Gan Kam mencari peluang bisnis dengan menjadikan kesenian Wayang Wong sebagai komoditas, ia membujuk raja Solo saat itu untuk mengijinkan pertunjukkan Wayang Wong di luar Keraton. Berkat jasanyalah kesenian tersebut dapat ditonton oleh seluruh elemen masyarakat di kota itu. Berbeda dengan di Yogyakarta, kesenian tersebut dapat dinikmati oleh rakyat atas pengaruh kalangan elit keraton yang mendemokrasikan atau memasyarakatkannya dengan memberi kesempatan untuk mempelajari kesenian itu di sekolah- sekolah.

Pertemuan wayang dengan komedi stambul semakin memeriahkan dunia pertunjukan Hindia Belanda (Indonesia) saat itu. Bedanya, komedi stambul dipentaskan secara berkeliling, dengan durasi yang lebih singkat dan hadir pada waktu senggang masyarakat industri. Komedi stambul berasal dari Surabaya yang dulu dikenal sebagai kota dagang. Digagas oleh seorang peranakan eropa dan biayai oleh seorang Tionghoa yang melibatkan beragam kebudayaan dan ditonton oleh berbagai ras dengan bahasa pengantar adalah Bahasa Melayu.

Pertunjukan seni di Hindia Belanda terus berkembang seiring tuntutan industrialisasi dan dipengaruhi oleh berbagai kebudayaan, dari kesenian tradisional maupun mancanegara. Industrialisasi melahirkan jalur kereta yang membuat kesenian komedi stambul menyebar hingga kota- kota besar Jawa. Hingga datanglah suatu seni pertunjukan ketoprak yang berasal dari Jawa Tengah, Ludruk dari Jawa Timur dan Sandiwara dari Jawa Barat. Ketiga bentuk pertunjukan itu sangat mempengaruhi masa awal produksi film di Hindia Belanda.

pada akhir tahun 1900, masyarakat Hindia Belanda dikejutkan oleh penayangan “Gambar Hidup” yang kini biasa disebut Film. Ditayangkan di bioskop hingga lapangan di kota- kota besar agar dapat mencakup semua elemen masyarakat. Hal ini salah satu bentuk kolonialisasi Belanda yang mengenalkan negaranya melalui film dokumenter. Kemudian diimporlah film- film dari Amerika yang alur ceritanya dinilai lebih menarik dan menantang.

Namun pemerintah Kolonial sempat khawatir atas film Amerika yang justru mampu mengubah pikiran pribumi terhadap orang Eropa saat itu. Terutama terhadap Belanda yang berkuasa. Karena di film Amerika orang Eropa di presentasikan buruk, seperti mafia. Akhirnya dibuatlah film buatan Hindia Belanda yang ceritanya diadopsi oleh film- film Amerika. Pembuatan film tersebut dibiayai oleh pemerintah Belanda. Selain itu menerapkan sensor di semua film impor.
Ancaman mati nya seni tradisional juga sempat mengkhawatirkan, karena beredarnya film- film luar negeri di Hindia Belanda. Pada 1926, lahirlah film loetoeng kasaroeng yang memadukan wayang, sandiwara dan film yang dikemas sedemikian menarik. Film ini berlatar legenda sunda yang sudah terkenal. Hal ini agar masyarakat tidak lupa seni daerahnya.

Kota- kota besar di Hindia Belanda semakin tumbuh menjadi kawasan kosmopolitan. Hal ini terkait atas penerapan hukum agrarian, peningkatan liberalisasi politik dan politik etis yang diterapkan pemerintahan Belanda. Sehingga memacu percepatan pembangunan, termasuk pembangunan fasilitas gedung publik yang mendukung dunia pertunjukan.


Kawasan kompolitan merupakan wadah bagi munculnya imajinasi dalam berkreasi. Seni pertunjukan dan film seringkali dijadikan sebagai jembatan agar kota memiliki cerita yang mampu merangkul aspirasi Hindia Belanda dan mampu menjangkau banyak penonton. Selain itu keutungungan yang diperoleh dari Belanda adalah, melalui seni pertunjukan mereka mampu mengancam orang pribumi agar tidak berani memberontak kepada pemerintah. 

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons